Ini Bukan Tafsir
08 Sep 2026 • Lina Ramadhani
ini diisi apanya nih?
Ada alasan mengapa tempat ini saya beri nama BUKAN TAFSIR.
Bukan karena Al-Qur’an tidak perlu ditafsirkan.
Justru sebaliknya.
Al-Qur’an terlalu agung untuk saya perlakukan seolah-olah setiap kesan yang muncul di kepala saya otomatis menjadi tafsir. Ada ilmu yang panjang di belakang sebuah tafsir. Ada bahasa Arab, asbabun nuzul, hadis, ilmu qira’at, ushul, pendapat para ulama, dan begitu banyak disiplin yang tidak pantas saya lewati hanya karena saya bisa menulis beberapa paragraf yang terdengar indah.
Maka sejak halaman pertama ini, saya ingin membuat batas yang jelas:
Yang akan Anda baca di sini bukan tafsir Al-Qur’an.
Ini adalah catatan seorang manusia ketika berjumpa dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Kadang berupa kegelisahan.
Kadang pertanyaan.
Kadang rasa malu.
Kadang sesuatu yang selama bertahun-tahun kita baca, tetapi pada suatu hari tiba-tiba terasa seperti sedang berbicara langsung kepada kehidupan kita.
Kita sering membaca, tetapi tidak selalu berhenti
Ada ayat yang mungkin sudah kita hafal sejak kecil.
Kita membacanya ketika salat.
Kita mendengarnya dari pengeras suara masjid.
Kita mengajarkannya kepada anak-anak.
Kita mengulanginya dalam perlombaan, ujian, hafalan, atau kegiatan keagamaan.
Begitu seringnya ayat itu lewat di lidah kita sampai terkadang ia menjadi sangat akrab.
Dan sesuatu yang terlalu akrab memiliki satu bahaya:
kita merasa sudah mengenalnya.
Padahal mungkin kita baru mengenal bunyinya.
Kita hafal urutan katanya, tetapi belum pernah benar-benar berhenti di depannya.
Belum pernah bertanya:
Mengapa Allah mengatakan ini?
Mengapa kalimat ini diletakkan di sini?
Mengapa setelah berbicara tentang sesuatu, ayat berikutnya justru membawa kita ke sesuatu yang lain?
Dan apa yang terjadi kalau ayat ini saya letakkan di tengah kehidupan saya hari ini?
Bukan untuk menciptakan makna baru.
Bukan pula untuk menggantikan penjelasan para mufasir.
Hanya untuk berhenti sejenak.
Karena mungkin salah satu masalah kita bukan kekurangan bacaan Al-Qur’an.
Mungkin kita terlalu cepat melewatinya.
Kita hidup di zaman yang sangat berisik
Setiap hari ada sesuatu yang meminta perhatian kita.
Pesan masuk.
Video pendek.
Berita.
Komentar.
Pertengkaran.
Promosi.
Notifikasi.
Orang-orang yang mengatakan bahwa sesuatu sangat penting hari ini, lalu dua hari kemudian tidak ada seorang pun yang membicarakannya lagi.
Kita hidup dalam arus informasi yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Di tengah semua itu, sebuah mushaf bisa berada hanya beberapa meter dari kita.
Diam.
Tidak mengirim notifikasi.
Tidak berebut perhatian.
Tidak memaksa kita membuka halaman tertentu.
Namun justru karena ia diam, kita yang harus mendatanginya.
Dan mungkin itulah yang semakin sulit.
Bukan membaca satu halaman.
Melainkan memberikan satu halaman itu kesempatan untuk mengganggu cara hidup kita.
Karena Al-Qur’an tidak selalu datang membawa kalimat yang nyaman.
Ada ayat tentang kematian ketika kita sedang sibuk mengejar dunia.
Ada ayat tentang harta ketika kita sedang menghitung keuntungan.
Ada ayat tentang kesombongan ketika kita sedang menikmati pujian.
Ada ayat tentang orang-orang yang merasa dirinya benar.
Ada ayat tentang manusia yang mengetahui kebenaran tetapi tetap berpaling.
Lalu kita membaca semuanya.
Menutup mushaf.
Dan kembali menjadi manusia yang sama.
Bukankah itu sesuatu yang layak direnungkan?
Maka tulisan-tulisan ini lahir dari pertanyaan sederhana
Apa yang terjadi jika saya tidak terburu-buru melewati sebuah ayat?
Saya ingin mencoba melakukannya.
Satu ayat.
Satu bagian.
Satu kegelisahan.
Kemudian melihat ke kehidupan.
Ke rumah.
Ke sekolah.
Ke pekerjaan.
Ke layar ponsel.
Ke percakapan kita.
Ke cara kita memperlakukan orang lain.
Dan yang paling sulit:
ke diri sendiri.
Saya tidak ingin setiap tulisan berakhir dengan kalimat seolah-olah semua persoalan sudah selesai.
Kadang sebuah ayat justru meninggalkan pertanyaan.
Dan mungkin pertanyaan itu perlu dibawa pulang.
Dibiarkan berjalan bersama kita beberapa hari.
Karena tidak semua bacaan harus segera menghasilkan kesimpulan.
Ada bacaan yang tugasnya hanya membuat kita tidak bisa lagi hidup dengan cara yang sama tanpa merasa sedikit terganggu.
Karena itu, jangan jadikan tulisan ini tempat berhenti
Kalau sebuah tulisan di situs ini membahas suatu ayat, bukalah kembali ayatnya.
Baca terjemahannya.
Buka tafsir para ulama.
Cari penjelasan yang lebih lengkap.
Bandingkan.
Pelajari.
Kalau ada bagian dari tulisan saya yang berbeda dengan penjelasan ulama yang dapat dipertanggungjawabkan, maka jangan pertahankan tulisan saya.
Tinggalkan.
Situs ini tidak dibuat agar pendapat penulis berdiri di antara pembaca dan Al-Qur’an.
Sebaliknya.
Kalau berhasil, mudah-mudahan tulisan-tulisan ini hanya menjadi sebuah jari kecil yang menunjuk:
“Coba lihat ayat itu sekali lagi.”
Setelah itu, lupakan jarinya.
Lihatlah ke arah yang ditunjuk.
Kita akan mulai dari sebuah berita besar
Perjalanan pertama nanti akan dimulai dari bagian yang banyak di antara kita kenal sejak kecil.
‘Amma yatasa’alun.
Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?
Sebuah surah dibuka dengan manusia yang sedang ramai membicarakan sebuah berita besar.
Dan ribuan tahun kemudian, manusia masih sama.
Kita menyukai berita.
Kita mengejar berita.
Kita memperdebatkan berita.
Kita membagikan berita.
Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin jauh lebih penting:
Dari semua berita yang memenuhi hidup kita, berita mana yang benar-benar kita anggap besar?
Kita akan mulai dari sana.
Bukan sebagai ahli tafsir.
Bukan sebagai orang yang merasa telah memahami Al-Qur’an.
Melainkan sebagai manusia yang masih belajar berhenti ketika sebuah ayat sedang berbicara.
Dan mungkin, dari situlah perjalanan ini semestinya dimulai.
Ini bukan tafsir.
Ini hanya usaha agar ayat yang telah kita baca berkali-kali tidak selalu berlalu begitu saja.
BUKAN TAFSIR
Membaca ayat. Membaca hidup. Lalu kembali membaca ayat.